Tampilkan postingan dengan label Maulid Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maulid Nabi. Tampilkan semua postingan

Peringatan Maulid Nabi S.A.W 2013 M

Pra Acara Diisi Gema Sholawat

Pembawa Acara Dibawakan Oleh : Bpk. Zaenuddin Al-Jumadi



Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an : Oleh Ananda Dedi Hariyanto

Sambutan Panitia Oleh Lurah Pondok : Ust. Saiful Anam

Hadiyuhan/Istighotsah Oleh : Bpk. Imam



Mustami'iin - Mustami'aat Dari Beberapa Desa Dikecamatan Sugihwaras

Pengasuh Dan Tokoh Agama

Mau'idloh Hasanah Oleh : KH. NASHIRUDDIN (Senori)

Pengasuh Dan Habib Ahmad (Terate)

Penutup Acara/Do'a Oleh : Habib Ahmad Al-Athas

Pra Acara Maulid Nabi 2014 M

Pra Acara Maulid Nabi diPonPes Manba'ul Ulum Bulu Tahun 2014 M

Agenda Pondok Pesantren

Acara : Peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W
Hari : Selasa Malam Rabu
Tanggal : 14 - 15 Januari 2014 M
Waktu : Ba'da Isya' - Selesai
Tempat : Halaman PP. Manba'ul Ulum Bulu
Dibuka Untuk Umum
Yang Berkenan Hadir Monggo Bareng - Bareng Kita Semarakan ...

Musyawarah Pembentukan Panitia PHBI

Musyawaroh Pembentukan Panitia PHBI (Peringatan Malid Nabi S.A.W) Tahun 2014 M/1435 H, Bekerja Sama Dengan Warga Sekitar Dan Tokoh Agama Desa Setempat.







Peringatan Maulid Nabi S.A.W 2012 M

Pra Acara Diisi Lantunan Sholawatan


Mustami'iin/Hadiriiin Dari Warga Sekitar


Mustami'aat/Hadiroot Dari Warga Sekitar


 Tokoh Agama Dan Perangkat Desa
 

Suasana Dalem


Sambutan Panitia Oleh Bapak Abdul Hamid


Sambutan Kepala Desa Bulu Oleh Bpk. Sujoko


Mau'idhoh Hasanah Oleh KH. Syerozi Dari Lamongan


Ramah Tamah Setelah Acara

 

Nabi pun Memperingati Maulid…


Imam Muslim dalam Shahih-nya (2/819) meriwayatkan dari Abu Qatadah bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab, "Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari turunnya wahyu kepadaku."
Pada abad ke-14 H, muncul sekelompok orang yang mengharamkan ziarah kubur, termasuk kubur Nabi SAW, melarang bertawassul dengan nabi-nabi dan orang-orang shalih, melarang membaca doa bersama-sama setelah shalat fardhu, termasuk melarang peringatan Maulid Nabi SAW.

Mereka menyebut peringatan Maulid sebagai bid’ah yang sesat. Bahkan sebagian mereka menyatakan, peringatan Maulid adalah perbuatan syirik, dan pelakunya adalah musyrik.

Tidak tertutup kemungkinan, karena ketidaktahuan umat, hingga kini masih ada di antara mereka yang juga bersikap demikian. Yang sering terucap di antara mereka adalah bahwa peringatan Maulid itu bid’ah, dan karena bid’ah hukumnya sesat.

Bahasa adalah fenomena. Dan, sebagai sebuah fenomena, barangkali memang sulit bagi kita untuk membendungnya. Demikian pula fenomena penggunaan kata “bid’ah” dalam masyarakat kita. Tanpa konteks tertentu, kata itu mungkin berkonotasi “haram”, “sesat”, “terlarang”, dan sebagainya. Tapi, apakah semua bid’ah itu haram?

Tidak! Para ulama membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah, bid’ah yang baik, dan bid’ah qabihah, bid’ah yang tercela.

Bid’ah hasanah adalah perbuatan-perbuatan yang belum dikenal pada masa Nabi SAW namun tidak bertentangan dengan Al-Quran dan as-sunnah. Contohnya, menghimpun Al-Quran ke dalam sebuah mushhaf, mengumpulkan orang-orang untuk mengerjakan shalat Tarawih berjama’ah.

Lalu bagaimana dengan sabda Rasulullah SAW “Setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”?

Untuk menjawab itu, kita juga mesti menyimak sabda Rasulullah SAW yang lain, “Siapa yang membuat bid’ah sesat, yang tidak diridhai Allah dan Rasul-Nya, atasnya dosa orang yang mengamalkannya, tanpa sedikit pun mengurangi dosa-dosa mereka.” Dari bagian kalimat “bid’ah sesat, yang tidak diridhai Allah dan Rasul-Nya”, bisa dimaknai bahwa ada bid’ah lain, yang diridhai Allah dan Rasul-Nya, yakni bid’ah hasanah.

Jadi, yang dimaksud dengan hal baru dalam hadits “Setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” adalah hal-hal baru yang bathil, yang tidak diridhai Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan perayaan Maulid jelas adalah bid’ah hasanah.

Di samping dalil tentang bid’ah itu, masih ada dalil-dalil lain yang sangat kuat ihwal disyari’atkannya Maulid:

•    Perintah mengagungkan hari dan tempat kelahiran beberapa nabi dalam Al-Quran dan sunnah.
•    Kisah Abu Lahab yang memerdekakan budaknya, Tsuwaibah Al-Aslamiyyah, karena gembira dengan kelahiran Nabi SAW.
• Peringatan yang dilakukan oleh Nabi SAW di hari kelahirannya dengan melakukan puasa pada hari Senin.
• Hadits shahih yang berasal dari Nabi SAW tentang puasa hari Asyura.
• Nabi SAW melakukan aqiqah bagi dirinya setelah diutus menjadi nabi.
• Perintah memuliakan hari Jum`at karena sebab diciptakannya Nabi Adam AS di hari itu.
• Penyebutan Allah SWT tentang kisah para nabi dalam Al-Quran, di antaranya kisah kelahiran Nabi Yahya AS, Maryam, dan Nabi Isa AS.
• Maulid sebagai perantara untuk melakukan berbagai perbuatan taat.
• Firman Allah SWT, “Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” – QS Yunus (10): 58.
• Perayaan Maulid bukanlah ibadah tawqifiyah, ibadah yang pasti dan sudah jelas mutlak dalilnya, melainkan taqarrub yang mubah.
Kaidah ushul fiqh anna ma dakhalah al-ihtimal saqath al-istidlal, segala sesuatu yang mengandung kemungkinan tidak dapat dijadikan dalil.
Nafy al-`ilm la yulzam minh nafy al-wujud, ketidaktahuan tidak melazimkan ketidakadaan sesuatu.

(Bagaimana penjelasan dalil-dalil itu, silakan baca alKisah edisi 02 rubrik Kisah Utama).
Sumber : http://pembela-aswaja.blogspot.com